Peran mentalitas tim tamu dalam duel antara Dewa United vs PSM Makassar

 


Dalam sepak bola, seringkali bukan hanya taktik yang menentukan hasil, melainkan mentalitas. Duel Dewa United melawan PSM Makassar menunjukkan betapa pentingnya kepercayaan diri, adaptasi sekaligus kemampuan bangkit dari tekanan. Ketika PSM datang sebagai tim tamu, mereka bukan hanya

 

membawa permainan—tetapi membawa beban sejarah, harapan suporter dan kebutuhan untuk menunjukkan bahwa mereka pantas disebut tim papan atas.

PSM Makassar memiliki catatan head-to-head yang cukup seimbang melawan Dewa United, dari enam pertemuan terakhir, masing-masing tim menang dua kali dan dua kali imbang. 

Kondisi ini menciptakan dua hal, peluang dan tekanan. Peluang karena lawan tak tampak dominan secara mutlak, tekanan karena baku sandaran selama ini menunjukkan titihan untuk "mesti menang".

Dalam satu pertandingan terbaru di Super League 2025/2026, PSM sebagai tamu sukses meraih kemenangan 1-0 atas Dewa United di stadion lawan. 

Kemenangan ini bukanlah sekadar angka tiga poin—melainkan simbol bahwa PSM mampu menahan agresivitas tuan rumah, menjaga fokus sepanjang 90 menit, dan menuntaskan tugas dengan disiplin. Gol

 

tunggal dari Abu Kamara menit ke-32 kemudian menjadi bukti bahwa ketika tim tamu mengambil momentum dan mempertahankannya, mentalitas solid bisa mengubah arah laga.

Di sisi Dewa United, mental “tuan rumah” seharusnya jadi keuntungan—dukungan suporter, lapangan familiar—namun tekanan kerap menjadi beban. Ketika laga memasuki situasi sulit—misalnya tertinggal atau menghadapi tekanan comeback—kemampuan untuk “menahan napas” dan bangkit akan

 

diuji. Contoh dramatis tercipta ketika Dewa United berhasil membalikkan keadaan melawan PSM dengan skor 3-2. 


Mereka sempat tertinggal, lalu empat menit kemudian unggul, lalu bangkit di babak kedua. Itu bukan hanya soal kemampuan teknis, melainkan mental yang tak menyerah.

Lantas, apa pelajaran dari sudut mentalitas tim tamu? Pertama kejelasan peran — PSM tampak tahu kapan harus bertahan, kapan harus menyerang. Kedua ketahanan tekanan — Dewa United memberi tekanan terus, tetapi PSM mampu mengalahkan tekanan itu dengan disiplin. Ketiga: pengambilan

 

peluang — saat kesempatan datang, PSM menuntaskannya; sementara Dewa United, meski punya penguasaan bola, terkadang gagal memanfaatkan momentum.

Jadi, untuk pertandingan-pertandingan berikutnya, penggemar sepak bola sebaiknya memperhatikan bukan hanya siapa yang lebih bagus secara teknis, tetapi siapa yang lebih siap dari sisi mentalitas — siap menghadapi tekanan, menjaga fokus, dan memanfaatkan momentum. Dalam konteks Dewa United

 

versus PSM Makassar, kemenangan bukan hanya soal siapa yang mencetak gol banyak, tetapi siapa yang menguasai alur psikologis pertandingan.

Post a Comment

أحدث أقدم